Senin, 07 Januari 2013

HADIST (ETOS KERJA)


ETOS KERJA

A.    Berusahalah Jangan Meminta-Minta
  1. Hadist dan Terjemahan
artinya:
Dari Hakim bin Hazim berkata, “Nabi SAW. Bersabda, “Tangan yang diatas lebih baik dari tangan yang dibawah, dan dahulukan keluargamu (orang-orang yang wajib kamu beri belanja), dan sebaik-baiknya sedekah itu dari kekayaan (yang berlebihan), dan siapa yang menjaga kehormatan diri (tidak meminta-minta), maka allah akan mencukupinya, demikian pula siapa yang beriman merasa sudah cukup, maka allah akan membantu memberinya kekeyaan”.

  1. Tinjauan Bahasa
Mulailah, dahulukanlah                  :                   وابدأ
Keluarga yang ditanggung              :                   تعول
Menjaga kehormatan                      :                يستعفف

  1. Penjelasan Hadist
Islam sangat mencela orang yang mampu untuk berusaha dan memiliki badan yang sehat, tetapi tidak mau berusaha, melainkan hanya menggantungkan hidupnya pada orang lain. Misalnya, dengan cara meminta-minta. Keadaan seperti itu sangat tidak sesuai dengan sifat umat islam yang mulia dan memiliki kekuatan, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:

HADIST (ETOS KERJA)


ETOS KERJA

A.    Berusahalah Jangan Meminta-Minta
  1. Hadist dan Terjemahan
artinya:
Dari Hakim bin Hazim berkata, “Nabi SAW. Bersabda, “Tangan yang diatas lebih baik dari tangan yang dibawah, dan dahulukan keluargamu (orang-orang yang wajib kamu beri belanja), dan sebaik-baiknya sedekah itu dari kekayaan (yang berlebihan), dan siapa yang menjaga kehormatan diri (tidak meminta-minta), maka allah akan mencukupinya, demikian pula siapa yang beriman merasa sudah cukup, maka allah akan membantu memberinya kekeyaan”.

  1. Tinjauan Bahasa
Mulailah, dahulukanlah                  :                   وابدأ
Keluarga yang ditanggung              :                   تعول
Menjaga kehormatan                      :                يستعفف

  1. Penjelasan Hadist
Islam sangat mencela orang yang mampu untuk berusaha dan memiliki badan yang sehat, tetapi tidak mau berusaha, melainkan hanya menggantungkan hidupnya pada orang lain. Misalnya, dengan cara meminta-minta. Keadaan seperti itu sangat tidak sesuai dengan sifat umat islam yang mulia dan memiliki kekuatan, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:

HADIST (ETOS KERJA)


ETOS KERJA

A.    Berusahalah Jangan Meminta-Minta
  1. Hadist dan Terjemahan
artinya:
Dari Hakim bin Hazim berkata, “Nabi SAW. Bersabda, “Tangan yang diatas lebih baik dari tangan yang dibawah, dan dahulukan keluargamu (orang-orang yang wajib kamu beri belanja), dan sebaik-baiknya sedekah itu dari kekayaan (yang berlebihan), dan siapa yang menjaga kehormatan diri (tidak meminta-minta), maka allah akan mencukupinya, demikian pula siapa yang beriman merasa sudah cukup, maka allah akan membantu memberinya kekeyaan”.

  1. Tinjauan Bahasa
Mulailah, dahulukanlah                  :                   وابدأ
Keluarga yang ditanggung              :                   تعول
Menjaga kehormatan                      :                يستعفف

  1. Penjelasan Hadist
Islam sangat mencela orang yang mampu untuk berusaha dan memiliki badan yang sehat, tetapi tidak mau berusaha, melainkan hanya menggantungkan hidupnya pada orang lain. Misalnya, dengan cara meminta-minta. Keadaan seperti itu sangat tidak sesuai dengan sifat umat islam yang mulia dan memiliki kekuatan, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:

HADIST (ETOS KERJA)


ETOS KERJA

A.    Berusahalah Jangan Meminta-Minta
  1. Hadist dan Terjemahan
artinya:
Dari Hakim bin Hazim berkata, “Nabi SAW. Bersabda, “Tangan yang diatas lebih baik dari tangan yang dibawah, dan dahulukan keluargamu (orang-orang yang wajib kamu beri belanja), dan sebaik-baiknya sedekah itu dari kekayaan (yang berlebihan), dan siapa yang menjaga kehormatan diri (tidak meminta-minta), maka allah akan mencukupinya, demikian pula siapa yang beriman merasa sudah cukup, maka allah akan membantu memberinya kekeyaan”.

  1. Tinjauan Bahasa
Mulailah, dahulukanlah                  :                   وابدأ
Keluarga yang ditanggung              :                   تعول
Menjaga kehormatan                      :                يستعفف

  1. Penjelasan Hadist
Islam sangat mencela orang yang mampu untuk berusaha dan memiliki badan yang sehat, tetapi tidak mau berusaha, melainkan hanya menggantungkan hidupnya pada orang lain. Misalnya, dengan cara meminta-minta. Keadaan seperti itu sangat tidak sesuai dengan sifat umat islam yang mulia dan memiliki kekuatan, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:

HADIST (ETOS KERJA)


ETOS KERJA

A.    Berusahalah Jangan Meminta-Minta
  1. Hadist dan Terjemahan
artinya:
Dari Hakim bin Hazim berkata, “Nabi SAW. Bersabda, “Tangan yang diatas lebih baik dari tangan yang dibawah, dan dahulukan keluargamu (orang-orang yang wajib kamu beri belanja), dan sebaik-baiknya sedekah itu dari kekayaan (yang berlebihan), dan siapa yang menjaga kehormatan diri (tidak meminta-minta), maka allah akan mencukupinya, demikian pula siapa yang beriman merasa sudah cukup, maka allah akan membantu memberinya kekeyaan”.

  1. Tinjauan Bahasa
Mulailah, dahulukanlah                  :                   وابدأ
Keluarga yang ditanggung              :                   تعول
Menjaga kehormatan                      :                يستعفف

  1. Penjelasan Hadist
Islam sangat mencela orang yang mampu untuk berusaha dan memiliki badan yang sehat, tetapi tidak mau berusaha, melainkan hanya menggantungkan hidupnya pada orang lain. Misalnya, dengan cara meminta-minta. Keadaan seperti itu sangat tidak sesuai dengan sifat umat islam yang mulia dan memiliki kekuatan, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:

HADIST (ETOS KERJA)


ETOS KERJA

A.    Berusahalah Jangan Meminta-Minta
  1. Hadist dan Terjemahan
artinya:
Dari Hakim bin Hazim berkata, “Nabi SAW. Bersabda, “Tangan yang diatas lebih baik dari tangan yang dibawah, dan dahulukan keluargamu (orang-orang yang wajib kamu beri belanja), dan sebaik-baiknya sedekah itu dari kekayaan (yang berlebihan), dan siapa yang menjaga kehormatan diri (tidak meminta-minta), maka allah akan mencukupinya, demikian pula siapa yang beriman merasa sudah cukup, maka allah akan membantu memberinya kekeyaan”.

  1. Tinjauan Bahasa
Mulailah, dahulukanlah                  :                   وابدأ
Keluarga yang ditanggung              :                   تعول
Menjaga kehormatan                      :                يستعفف

  1. Penjelasan Hadist
Islam sangat mencela orang yang mampu untuk berusaha dan memiliki badan yang sehat, tetapi tidak mau berusaha, melainkan hanya menggantungkan hidupnya pada orang lain. Misalnya, dengan cara meminta-minta. Keadaan seperti itu sangat tidak sesuai dengan sifat umat islam yang mulia dan memiliki kekuatan, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:

Sabtu, 12 Mei 2012

MULTI LEVEL MARKETING (PENJUALAN BERTINGKAT)


A.    Pengertian
Multi Level Marketing berasal dari bahasa Inggris, dimana multi berarti banyak, level berarti tingkat, sedangkan marketing berarti pemasaran. Jadi Multi Level Marketing adalah pemasaran yang berjenjang banyak. Konsep pemasaran Multi Level Marketing yang sering juga disebut network marketing (pemasaran dengan sistem jaringan) pertama kali digunakan dan diterapkan oleh sebuah perusahaan di Amerika pada tahun 1939, nutrulie. Kemudian berkembanglah sistem pemasaraan ini ke seantero dunia.[1]
Multi Level Marketing (MLM) adalah sistem penjualan yang memanfaatkan konsumen sebagai tenaga penyalur secara langsung. Sistem penjualan ini menggunakan beberapa level (tingkatan) di dalam pemasaran barang dagangannya.

Selasa, 17 April 2012

SEBAB-SEBAB KEPEMILIKAN HARTA TAM DAN NAQISH


A.    Pengertian
Kata kepemilikan berasal dari bahasa Arab al-milk yang artinya penguasaan terhadap sesuatu. Al-milk juga berarti sesuatu yang dimiliki. Kepemilikan juga berasal dari akar kata "malaka" yang artinya memiliki.
Dalam bahasa Arab "milk" berarti kepenguasaan orang terhadap sesuatu (barang atau harta) dan barang tersebut dalam genggamannya baik secara riil maupun secara hukum. Dengan kata lain, milik adalah penguasaan terhadap benda yang memungkinkan pemilik melakukan tindakan hukum terhadap benda tersebut, kecuali ada larangan syara’. 

Minggu, 25 Maret 2012

RASM AL-QUR'AN


A.   Pengertian Rasm Al- Qur’an
Rasm secara bahasa, berarti ”penulisan, ilustrasi, sketsa, penggambaran, pensifatan, dan pemberian garis’ (A. W. Munawwir, 1997 : 496-497). Dengan kata lain, rasm merupakan suatu upaya dan hasil dari pekerjaan penulisan dan pemberian tanda, ciri-ciri atau kode-kode tertentu terhadap sesuatu, sehingga ia dapat dikenali dengan mudah karena ia sudah memiliki perbedaan dengan yang lainnya.
Jika kata rasm diletakan dengan kata Al-Qur’an, maka secara bahasa, kedua kata jadian ini akan berarti sebagai upaya dan hasil kerja dari penulisan dan pemberian tanda, ciri, atau kode tertentu terhadap Al-Qur’an sehingga kitab suci ini dapat dikenali dan dibaca dengan baik dan benar.[1]  

Sabtu, 24 Maret 2012

PERUSAHAAN DAN BUMBU-BUMBUNYA


PERSEROAN TERBATAS (PT)
PT merupakan badan usaha yang mempunyai kekayaan, hak, serta kewajiban sendiri, yang terpisah dari kekayaan, hak serta kewajiban para pendiri maupun pemilik. Berbeda dengan bantuk badan usaha lainnya, PT mempunyai kelangsungann hidup yang panjang, karena perseroan ini tetap berjalan meskipun pendiri atau pemiliknya meninggal dunia. Tanda keikutsertaan seseorang sebagai pemilik adalah saham yang dimilikinya. Saham sebagai alat ukur peran dan kedudukan kepemilikan perusahaan. Setiap pemegang saham akan mendapatkan deviden yaitu laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham.
Untuk menjadikannya sebagai badan hukum PT, sebuah perusahaan harus mengikuti tata cara pembuatan, pendaftaran dan pengumuman sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas (UU PT).

Kamis, 22 Maret 2012

Berawal dari DEDIKASI


Pagi yang mendung, ku bejalan setapak demi setapak dengan penuh semangat menuju sekolah. Aku menoleh kearah tangan, ternyata jam tanganku menunjukkan pukul 07.29.  Waduh, aku telat, bisa-bisa dihukum lagi” gerutuku dalam hati. Segera aku mengambil langkah seribu, berlari menuju sekolah tanpa melihat kiri-kanan. Sesampai di gerbang sekolah, aku langsung menerobos masuk. Seketika itu, “eh,,,eh,,,eh,,, stop,,stop,,,stoooop,,,,!”, aku menoleh ke samping, ternyata pak Arman, sang penjaga sekolah sudah berdiri, siap dengan kepalan tangan serta jari telunjuk menunjuk  ke arahku. Terdengar sreg-sreg ala suara pak Arman, beliau berkata, “Upik, kamu telat lagi”. Tanpa pikir panjang, aku jawab, “iya pak, jalan macet”. Pak Arman jadi bingung, “macet? Sejak kapan jalan kesini ada istilah macet? Alasan kamu g’ masuk akal”, sangkal pak Arman. “Hm,,,, iya pak, alasan aku saja”, akhirnya aku mengakui. “Kalau begitu kamu berbaris di atas, sekalian sama yang telat lainnya nanti”, pak Arman menyambung kata-katanya.
Mata terbelalak dan melotot ke arah pak  Arman, aku berkata “Upik belum telat pak, sedikit lagi, baru telat. Buktinya gerbang saja belum dikunci, dan bapak lihat itu” kataku sambil menunjuk kearah bawah tempat lapangan yang biasa kami gunakan untuk berbaris. “Teman-temanku belum berbaris dengan rapi”, ungkapku  agak kesal. Pak Arman hanya menggeleng-geleng, karena ia tau persis sifat dan tingkah lakuku yang sering datang ke sekolah hampir-hampir  telat seperti ini.  

TASAWUF DAN TAREKAT


Melihat banyaknya aliran dan sekte-sekte dalam islam saat ini, bahkan berbagai kekeliruan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat terkait dengan tasawuf dan tarekat. Tasawuf dan tarekat sebenarnya bukan hal yang asing lagi. Disekitar kita banyak terdapat aliran-aliran yang berhaluan tasawuf dan tarekat. Namun, yang menjadi tanda Tanya bagi kita “apakah aliran itu suatu aliran tasawuf atau tarekat?, apakah ajaran-ajarannya masih murni ataukah sudah banyak pembaharuannya?”. Jika dikaji asalnya, tasawuf berasal dari kata sufi (صوف), yang berarti suci. Maksudnya, seorang sufi adalah orang yang telah mensucikan dirinya melalui latihan berat dan lama, dengan satu tujuan yaitu berjumpa dengan Allah (berada sedekat mungkin dengan Allah). Tasawuf juga berasal dari kata ahl al-suffah (أهل الصفة), diambil dari istilah sebuah pelana yang dijadikan Rasulullah SAW sebagai bantal ketika beliau hijrah dari Mekah ke Madinah.
Pendapat lain mengatakan bahwa  tasawuf berasal dari kata shaf (صف). Makna shaf ini dinisbahkan kepada orang yang ketika shalat selalu berada di barisan paling depan, sehingga ia mendapat kemuliaan. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata shaufanah, yaitu sebangsa buah-buahan kecil berbulu banyak yang tumbuh di padang pasir di tanah Arab, dan pakaian orang sufi berbulu-bulu seperti ini sebagai lambang kesederhanaannya. Pendapat mengatakan bahwa asal kata tasawuf adalah suf (صوف)  berarti bahwa kain yang dibuat dari bulu wol. Kaum sufi menggunakan wol kasar untuk pakaiannya sebagai lambang kederhanaan. 

PEMIKIR EKONOMI ISLAM KLASIK (ABU YUSUF)

 
A.  Biografi Dan Karya Tulisnya
Bila ditelusuri catatan sejarah dan pemikiran dalam kajian ekonomi, maka kita akan menemukan kealpaan yang merugikan khazanah keilmuan islam. Itu terlihat dari sangat langkanya nama para tokoh muslim yang dimunculkan dipermukaan, diantara kelompok tersebut adalah Abu Yusuf, yang jika dilihat dari pemikiran kelimuannya memiliki pemikiranyang cukup brilian, namun pemikirannya dalam bidang ekonomi nyaris dilupakan sama sekali.
Nama lengkap dari Abu Yusuf adalah Ya’qub ibn Ibrahim ibn Sa’ad ibn Husein Al-Anshori, ia lahir di kuffah pada tahun 113 H (731 M), dan wafat pada tahun 182 H (798 M). Abu Yusuf berasala dari suku Bujailah, salah satu suku bangsa arab. Keluarganya disebut Anshori karena dari pihak ibu masih mempunyai hubungan dengan kaum Anshar.[1]  Jika dilihat dari tahun kehidupannya, menunjukkan bahwa ia hidup pada masa transisi, yakni diakhir masa pemerintahan Bani Umayyah dan diawal pemerintahan Bani Abbasiyah. Karena berbagai sebab, tumbanglah Dinasti Bani Umayah di Damaskus dan muncullah Dinasti Abbasiyah di Baghdad.[2]
Abu Yusuf menimba ilmu kepada banyak ulama besar, seperti Abu Muhammad Athobin As-Saib al-Kufi, Sulaiman bin Mahran al-A’masy, Hisyam bin Urwah, Muhammad bin Abdurrahman bin abi Laila, Muhammad bin Ishaq bin Yassar bin Jabbar dan al-HAJJAJ bin arthah. Selain itu, ia juga menuntut ilmu kepada Abu Hanifa. Selama tujuh belas tahun, Abu Yusuf tiada henti-hentinya belajar kepada pendiri mazhab hanafi tersebut.